Catatan kecil dari pelaksanaan workshop penulisan berita & artikel website KPU Tulungagung (1)
Ketua KPU Kab.Tulungagung saat membuka Workshop (3/6)

Ketua KPU Kab.Tulungagung saat membuka Workshop (3/6)

Reporter : Didik Yuliana
Editor : Suyitno Arman

Tulungagung (kpu-tulungagungkab.go.id.)– “Saya sudah tua, apakah bisa membuat berita? Paling-paling bisanya saya membuat berita duka.” Celatuk Sutedjo (55 tahun) itu sontak membuat seisi ruangan media center KPU Kabupaten Tulungagung Jum’at sore (3/6/2016) menjadi mencair dan penuh gelak tawa. Maklum, hampir selama 3 jam pelaksanaan kegiatan workshop penulisan berita dan artikel website KPU Tulungagung itu lebih banyak suasana serius.

Layaknya kegiatan lainnya, seusai pemaparan oleh dua orang nara sumber yakni Wiwieko Dharmaidiningrum (wartawan senior harian Bhirawa Jatim) dan Suyitno Arman (Koordinator Divisi sosialisasi, pendidikan pemilih, dan pengembangan informasi KPU tulungagung), acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Beberapa peserta seperti Victor Febrihandoko (Komisioner yang membidangi Divisi Perencanaan, Keuangan, Logistik, dan Rumah Tangga), Lilik Wijayati (Sekretaris KPU), Muh. Anam Rifa’i (Analis Hukum), serta beberapa peserta lainnya diberi kesempatan mengajukan pertanyaan. Rata-rata materi yang ditanyakan adalah hal-hal serius tentang bagaimana teknik menulis berita.

Menjelang akhir sesi tanya-jawab, Sutedjo staf sekretariat yang memang sudah berusia limapuluhan tahun lebih itu terpancing juga untuk mengajukan pertanyaan. Rupanya pria yang kerap tampil trendy dan selalu berkacamata hitam itu tak mampu menahan galau, lantaran semua peserta workshop nantinya harus menyelesaiakn PR membuat sebuah tulisan berita/artikel. Dan “karya tulis” itu harus dikumpulkan selambatnya dalam seminggu pasca workshop. “Saya dulu sekolahnya di SR (red. Sekolah rakyat). Belum ada pelajaran seperti ini.” Canda Tedjo yang kembali mengundang tawa seluruh peserta yang hadir.

Sialnya, “rayuan” Sutedjo itu tidak membuat nara sumber melunak. Sebagaimana 34 peserta lainnya, dia harus tetap mengumpulkan tugas membuat berita. Angelnya apa saja, yang penting serba-serbi seputar pelaksanaan kegiatan workshop. Hal itu sesuai arahan nara sumber, bahwa belajar membuat berita adalah persoalan kemauan untuk mencoba, menulis dan menulis.(DIK/ARM)